Monday, January 6, 2020

Perempuan Hebat (Bagian 1)

Perempuan hebat itu bernama Ibu Ginem, beliau dilahirkan di Solo 02 Juni 1960. Beliau adalah anak dari keluarga yang sederhana, ia memiliki tiga orang kakak yang sangat menyayangi dan menjaganya. Bapaknya pun sangat memanjakannya, setiap hari pasti sang Bapak selalu memasak makanan kesukaan putri kecilnya tersebut. Setiap pergi ke acara pernikahan di sekitar kampung, tentu saja takkan terlupa untuk membungkuskan beberapa makanan untuknya. Ibu Ginem ini memiliki nama kecil "Cimplek", kebiasaan di kampungnya setiap anak pasti memiliki nama panggilan kesayangan atau nama kecil. Sejak kecil seluruh tetangga akan tahu jika ia menangis, karena tangisannya itu sangatlah keras dan terdengar sampai jauh. 
Ginem kecil saat sudah memasuki usia sekolah, ia pun sekolah, disaat teman-teman seumurannya tidak bisa sekolah karena masalah ekonomi, ia pun tetap nekad untuk sekolah. Alhamdulillah orang tua Ginem kecil mengizinkannya untuk sekolah, diantara saudara-saudara pun dia yang paling beruntung karena diperbolehkan untuk sekolah. Meskipun ia hanya memiliki satu seragam untuk sekolah selama lima hari, ia tidak putus harapan. Sepulang sekolah, ia pun langsung mencuci seragamnya untuk dikenakan esok hari, begitu terus sampai ia lulus Sekolah Rakyat (SR) kalau sekarang mungkin setingkat Sekolah Dasar (SD). Saat itu di tahun 60-an belumlah ada buku tulis dan alat tulis seperti saat ini, yang ada hanya 'Saba' sebutan untuk papan kecil berbentuk persegi yang digunakan untuk menulis dan kapur untuk menulis di atas 'saba ' tersebut. Setiap anak hanya memiliki satu 'saba' saja. Setiap selesai satu mata pelajaran, dihapuskan tulisan yang ada di 'saba' tersebut untuk digunakan kembali pada pelajaran selanjutnya. Kebayang dong ya kalau setiap siswa harus mengingat pelajaran yang sudah mereka pelajari di luar kepala (luar biasa).
Ginem kecil terkenal dengan kepandaiannya menghitung, setiap ada ulangan tentang berhitung, sudah pasti semua temannya akan meminta bantuannya untuk memberikan jawaban dengan imbalan saat istirahat nanti, dia akan dijalani oleh teman-temannya. Tentu saja Ginem kecil tidak menolaknya, dia senang hati membantu kesulitan teman-temannya. Karena terkendala akan biaya pendidikan Ginem kecil hanya bisa sekolah sampai tamat SR (Sekolah Rakyat) saja, meskipun begitu ia tetap bersyukur karena ia bisa membaca, menulis, dan berhitung.

No comments:

Post a Comment

DEBAT Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Debat adalah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan sa...